Showing posts with label setengah serius. Show all posts
Showing posts with label setengah serius. Show all posts

Saturday, December 6, 2008

Kenapa KRL dan Busway Penuh, Tapi Jakarta Tetap Macet?


Gambar yang anda lihat disamping adalah kondisi KRL AC Sudirman Ekspress Jakarta (saya foto sendiri). bersih, rapi, dingin dan cukup nyaman. KRL-KRL ini sebagian (atau seluruhnya?) adalah sumbangan dari biro transportasi Tokyo-Jepang (bisa anda lihat tulisannya di dalam gerbong, disudut dekat pintu).
Belakangan ini,  saya mulai keranjingan naik KRL-AC tersebut selain juga keranjingan naik Busway. meskipun kualitas layanan KRL-AC dan Busway kita jauh dari bayangan tentang moda transportasi ideal, tapi dua sarana ini boleh dibilang sudah mulai menjadi tulang punggung warga kelas menengah Jakarta. Apalagi kalau kita sudah bicara tentang KRL ekonomi, sudah pasti merupakan salah satu jantung transportasi jarak menengah antar Jakarta dan daerah-daerah penyangganya.
Beberapa bulan belakangan ini setiap saya pulang dari stasiun Sudirman Manggarai ataupun Sudirman ke arah Serpong, jumlah penumpang yang naik KRL AC semakin banyak. Suasana di kereta makin sesak kalau kita sudah masuk ke stasiun Tanah Abang. bila kita naik kereta pukul 3, dipastikan kereta penuh oleh ibu-ibu yang pulang dari tanah abang. nah, kalo kita naik pukul 4 dst, dipastikan kereta penuh orang kantoran. pemandangan ini masih kalah bila saya bandingkan dgn KRL AC arah Bekasi dan Bogor yang lebih padat lagi.
KRL ekonomi AC boleh dibilang suatu moda transportasi yang sangat layak untuk masyarakat Jakarta, selain dingin, harganya pun masih sangat terjangkau warga, meskipun manajemennya masih belum rapi, tetapi kualitas yang diberikan masih dalam batas kewajaran. sayangnya dengan melihat kepadatan penggunanya, frekuensi kereta yang melintas masih terlalu sedikit. bandingkan dengan frekuensi transportasi massal serupa di Luar Negeri yang hampir setiap 15 menit ada. apalagi jika kita melihat KRL ekonomi biasa, sangat disayangkan kualitasnya yang jauh dari layak. gambar di bawah adalah kereta ekonomi biasa, yang meskipun biasa tetap saja keselamatan harus diutamakan, nyatanya? semua kereta ekonomi biasa tidak memiliki pintu..

padahal percayakah anda? pengguna kereta ekonomi biasa adalah 100 juta penumpang setiap tahun, jauh melebihi pangsa pasar kereta ekonomi AC yang mencapai 10 juta penumpang per tahunnya. berikut statistiknya yang saya copy langsung dari website dirjen perkeretaapian-dephub.
sumber gbr: http://perkeretaapian.dephub.go.id/images/statistik/volp.png

hal ini mencengangkan saya, karena ternyata KRL Jabotabek benar-benar tulang punggung transportasi warga kota Jakarta. bukankah ini seharusnya bisa menjadi jalan keluar yang nyata bagi kemacetan di Kota Jakarta? sementara pemerintah malah ribut mengurus subway dan MRT yang berbiaya triliunan tapi tidak ada yang mau membiayai. 
fenomena semakin padatnya penumpang dan rendahnya frekuensi kendaraan ini juga terjadi di jalur busway. Di satu sisi busway mulai mendapat perhatian masyarakat, terbukti dari makin padat dan tidak karuan jumlah penumpangnya. nyatanya di lain sisi frekuensi bus tidak juga bertambah bahkan berkurang. sarana prasarana pendukung busway pun rusak tidak karuan.
Disinilah seharusnya masyarakat mempertanyakan keseriusan pemerintah menyediakan sarana transportasi. ketika jalan keluar yang paling tepat sudah tersedia  pemerintah malah tidak sanggup mengelola dan memanfaatkannya dan malah terus mencari proyek-proyek baru lainnya yang (dijanjikan) akan mengatasi kemacetan (dan menghabiskan pos anggaran baru). 

Disini juga harus dipertanyakan. apakah tujuan akhir dari suatu anggaran pemerintah? apakah untuk memberikan manfaat (benefit) yang optimal bagi masyarakat? atau seperti anggaran perusahaan untuk memperoleh marjin keuntungan (profit) berupa uang bagi pemerintah?



Tuesday, October 14, 2008

Subprime Mortgage??

kata subprime mortgage sekarang ini sedang sering2nya keluar di media massa. Apa maknanya?

Waktu pertama kali saya dengar kata itu, saya agak kesulitan memahaminya.. sesudah baca berkali-kali, diulang-ulang, buka semua buku, buka internet dan sering baca dikoran. Nah kalo pake bahasa saya kira-kira begini penjelasannya:

Andaikan anda seorang buruh pabrik yang selama ini mengontrak di gang sempit, tiba-tiba anda ditawarkan kredit rumah (KPR) tipe 90 di real estate baru dgn harga yang lumayan mahal (anggap Rp. 200 juta) tapi dengan DP yang sangat rendah (mis 5%) dan ada grace period (tenggat waktu ga usah bayar cicilan) 1 tahun. Wajar kalau anda tertarik. Secara rasional anda bisa menikmati rumah lumayan mewah itu selama 1 tahun hanya dengan modal 10 juta rupiah (itung2 ngontrak), dan tanpa jaminan apapun kecuali rumah itu sendiri. Kalau anda tidak sanggup untuk membayar cicilan maka di akhir grace period anda tinggal angkat kaki dan rumah menjadi milik bank yang memberikan KPR.

Itulah kejadian di Amerika Serikat. Banyak properti dibangun, sumber pembiayaannya adalah bank-bank besar yang terlalu banyak memiliki dana nganggur (dana pihak ketiga) yang tidak tersalurkan, akhirnya dengan sumber pembiayaan yg besar, properti pun dibangun secara massal, kemudian agar properti ini cepat laku, rumah-rumah berukuran menengah ini dibangun dengan harga yang mahal dan ditawarkan pada kelompok menengah kebawah (biasanya buruh pabrik) dengan skema pembiayaan yang sangat ringan. Akhirnya berbondong-bondong masyarakat membeli properti tersebut.

Kumpulan hipotek utang-utang properti masyarakat kelas menengah kebawah inilah yang disebut subprime mortgage (subprime karena kemungkinan kesanggupan bayarnya tidak sebesar kelas menengah dan menengah keatas). Agar memperoleh untung lebih cepat, surat utang yang belum jatuh tempo ini kemudian oleh bank dijual kembali ke pihak ketiga. Biasanya dibeli oleh perusahaan-perusahaan investasi berskala besar dan dijual kembali dalam bermacam-macam produk investasi yang mereka tawarkan ke masyarakat, biasanya digabung dengan surat-surat berharga lain dalam bentuk reksadana dengan penawaran bunga yang sangat menarik bagi masyarakat yang ingin berinvestasi di pasar uang.

Yang menjadi masalah nilai surat berharga itu bubble, yang ditawarkan belum tentu sebesar jaminannya. Nah, ketika surat utang itu jatuh tempo, ternyata banyak pengutang yang gagal bayar, mereka tidak sanggup membayar cicilan rumahnya. Dan solusinya mudah bagi mereka, mereka tinggalkan begitu saja rumah-rumah tersebut dan kembali ke rumah lama mereka. Masalah besarnya rumah yang ditinggal tidak satu dua rumah saja, tetapi ratusan ribu hingga jutaan rumah!.

Meskipun harga rumah ini mahal, tetapi karena ada jutaan jumlahnya dan tidak ada pembelinya, maka nilai rumah itu menjadi kecil bahkan tidak bernilai. Nilai riilnya bahkan ada yang tiak mencapai 10% dari nilai yang tertera. Akhirnya terkuak bahwa nilai jaminan perumahan itu jauh dibawah kredit yang telah disalurkan BTN Amerika (Fannie Mae, Freddie Mac). Berarti nilai-nilai surat utang itu selama ini seperti gelembung balon, yang ketika balon itu dipecahkan, besarnya jauh dibawah ukuran gelembungnya. Dan terjadilah gagal bayar, gagal bayar dan gagal bayar lainnya karena kasus serupa (baca tulisan saya sebelumnya).

Ternyata pasar uang hanyalah pasar semu yang sangat khayal, wujud aslinya belum tentu segagah namanya banyak ketidakpastian yang tidak bisa diukur. Jadi wajar saja kalau banyak yang mengatakan kalau pasar uang itu lebih mirip pasar judi daripada pasar yang sebenarnya

Friday, July 18, 2008

Jalan-Jalan Ke Panaitan

Gambar yang anda lihat disebelah itu dermaga pulau panaitan..
keren yaa..

Jadi ceritanya, beberapa minggu yang lalu saya diajak jalan-jalan ayah saya trip ke pulau panaitan, banten. pulau ini terletak di ujung paling barat pulau Jawa, pas di pintu gerbang Selat Sunda. artinya pulau ini juga pintu gerbang lalu lintas internasional via samudera hindia..

Pulau ini cukup besar, ada kali hampir sebesar jakarta (atau lebih besar..) uniknya, untuk pulau seukuran itu, pulau ini tidak memiliki penduduk sama sekali alias kosong (biasanya pulau-pulau kecil yang gada penduduknya..), gada orang emang tapi tetep ada satu dermaga buat kapal dan kantor polisi hutan yang tidak setiap waktu dijaga, karena kadang-kadang polisi2nya pulang mudik ke Banten.

Selain tidak berpenghuni pulau ini juga memang sulit untuk didaratii. hampir diseluruh pinggir pantainya terhalang batu-batu karang yang ga terlalu keliatan karena menyebar di dalam air.. yang sepertinya dibuat secara tidak sengaja (atau sengaja?) oleh alam buat melindungi si pulau dari tangan-tangan kite orang kota.. tetapi ada pantai aman buat kapal, nah dicelah pantai itulah si dermaga berada..

Beberapa nelayan juga sering singgah disitu untuk bermalam (kalo kemaleman..) soalnya kabarnya kalo malem ombak perairannya besar-besar dan alhmdulillahnya kita ga nginep di situ, tapi di pulau Peucang. Kebetulan di Pulau Peucang ada resort milik Dephut (resort ini dibuat karena pa harto plus rombongan sering kesana buat mancing di perairan selat sunda karena emang ikan-ikan disana terkenal besar-besar). di pulau peucang juga banyak rusa + monyet dan ga usah dicari, begitu anda turun ke dermaga, anda pasti bakal disambut ama rusa (saya liat sendiri)...
sekarang resort ini bisa dipake juga buat yang mao berkunjung.. waktu saya kesana ada juga pengunjung dari rusia dll.. tapi klo urusan izinnya saya ga ngerti..


Kalo diliat dari vegetasinya, umur hutan di pulau panaitan blom lama.. baru sekitar seratus tahunan (padahal pohonnya tinggi-tinggi kaya tiang bendera, gede-gede lagi kaya gajah). tau dari mana masi seratusan taun? emang saya ahlinya? hehee.. kebetulan perginya bareng org dinas kehutanan banten jadi dia yg ceritain.. kmungkinan besar sih dulu kena ledakan gunung krakatau sekitar 130 taun lalu. klo binatang, disana ada kijang (saya liat sendiri juga) + monyet lagi..

Nah cerita punya cerita... di pulau ini ada gunung raksa (emang beneran ada) tingginya sekitar 300an meter, nah ditemukanlah bebrapa puluh taun yg lalu di kaki gunung itu dua buah arca, yang satu arca berbentuk dewa siwa dan satu lagi berbentuk dewa ganesha (klo mo liat fotonya, anda ke ujung kulon, tanya aja ke kantor pengelolanya mereka punya brosur fotonya, atau ke pulau peucang ada museum kecil disitu).

Bukti ada arca itu menunjukkan kalo dulu disitu pernah ada peradaban, dan klo diliat dari arcanya yang hindu, berarti peradaban yang ada disitu sudah lebih dari 1000 tahun yang lalu.. selain arca itu belom ditemukan artefak laen yang aneh-aneh yang menunjukkan lagi adanya peradaban di pulau itu..

Nah salah-salah, bisa jadi di Indonesia juga pernah ada negeri atlantis kaya di eropa sana yaa..
yah itulah Indonesia,, sejarahnya blom abis digali, alamnya udah abis digali duluan.. untung pulau panaitan ga (belum) digali..
Save Banten Heritages!!!

Sunday, May 25, 2008

Kenapa ekonom/pengamat biar banyak omong tetep harus ngomong?


Kenapa ekonom/pengamat biar banyak omong tetep harus ngomong?

(maksudnya kenapa pengamat itu penting...)

Coba anda lari bolak balik 100 m atau brapa ratus meter lagi terserah.. (sori kalo cape..)

Ampe keringetan..

cape..

aus..

trus coba cari satu gelas aer putih..

Lari dari depan rumah ke dapur..

Aer galon abis..

Lari dulu bawa galon-isi ulang atau tuker ama yang penuh..

Bawa balik lagi ke rumah..

Trus Minum..

Glek..glek..glek..

Abisin..

Glek..glek..glek....

Ambil lagi..

Abisin lagi..

Ambil lagi..

Abisin lagi...

Ambil lagi...

abisin lagi...

Whueeek.....

Awalnya kita butuh aer putih dan aer putih itu langka..

kita cari, kita korbanin segalanya demi segelas air putih... udah kita dapet aernya trus?

Kita minum..minum lagi .. minum lagi ampe puas (dasar manusia..) trus ampe puasnya abis kita overload.. muntah.. kebanyakan minum......

*contoh diatas itu contoh umum dipake di pelajaran ekonomi...(biasanya contonya cocacola-tapi kayanya ga sehat abis lari minum cocacola)...

Sekarang coba bayangin kalo pas anda minum gelas aer putih kedua trus dateng temen anda ngingetin ”udah jangan kebanyakan minumnya.. tar muntah”, saya jamin 90% dari anda semua ga peduli dan terus minum..(tapi anda jadi waspada jaga-jaga jangan sampai anda muntah)

Bayangkan kalo tidak ada teman anda yang mengingatkan mungkin anda akan minum sampai anda muntah..

Dan bayangkan,, meskipun sudah ada teman anda yang mengingatkan anda masih saja tidak peduli..

lalu anda mungkin agak mengerem tapi gengsi dikitlah, nambah dulu gelas ke tiga baru berhenti minum.. dan anda tidak muntah..alhamdulillah (anda jadi waspada takut muntah karena teman anda sudah mengingatkan)

Nah sekarang bayangkan kalau kejadian diatas terjadi di dunia yang jauh lebih makro.. dan anggap teman anda itu adalah ekonom..

Apa yang terjadi tanpa ekonom? Siapa yang akan mengingatkan kalo ekonomi kalo dibiarkan berjalan seperti keadaan x sudah diambang resesi? Siapa yang akan mengingatkan petani kalo terlalu banyak panen cabe, cabe gakan ada harganya? Siapa yang akan mengingatkan kalo inflasi turun terus bisa nambah pengangguran? Siapa yang mengingatkan kalo uang dicetak trus bisa bikin inflasi?

Memang belum tentu terjadi tapi setidaknya kita semakin waspada agar dampak yang dikatakan si ekonom/pengamat tidak terjadi..

Sebanyak-banyak omongnya pengamat mendingan daripada ga ada yang ngomong sama sekali...

udah sgitu aja..

efisien?

efisien?

"jang, makan yuk di hokben?" kata si udin..

ujang bales.."ah, ga ah, sayah mah lg penghematan biar efisien.. tanggal tua"

udin ngomong.."ah, ya udah, saya sendiri aja kalo gtu mah.. pinjem motor dong.."

ujang bales "eh kumaha, hemat bensin.. sing efisien atuh,, itu hokben cuma 100 meter dari sini..leumpang we (jalan kaki aja)"

udin bilang.."puguh justru biar efisien,, pan hemat tenaga... laper"

kata ujang bales: "ya udah tapi pulangna jalan kaki, pan udah ada tenagaan.. motorna maneh gotong we sakalian meh efisien"

udin ngoceh: "iya, tapi ga efektif"

ujang bingung.. "...geus ah lieur.." dst..dst..

saya yakin (insyaalloh) dialog yang mirip sering terjadi pula di kehidupan kita (seenggaknya di kehidupan saya) sehari-hari,

kata-kata "EFISIEN..EFEKTIF"

disini saya mau sedikit berbagi cerita tentang si efisien ini.. (tentang si efektif mah laen kali aja ya dilain waktu dan kesempatan...)

ada satu hal yang saya pelajari baru-baru ini dikelas..

(jadi anda yakin kalo itu kliatannya empiris di kelas, bukan reka2 saya.. sebenernya sy udah sering belajar ttg ini dari dulu waktu s1, cuman yah, ngerti lah, masuk telinga kanan keluar telinga kiri, kadang2 masuk otak kanan mentok ga mo pindah ke otak kiri, tapi kuliah yang kemaren malem ini, saya korek2 lagi kepala saya, saya coba simpen dan pindahin ke coret-coretan kertas)

tentang "efisien.."

(ini semua disederhanakan, sesederhana -sederhana mungkin sesuai otak yang sy yang sederhana (pentium 1) dari konsep tentang edgeworth box dan pareto optimum, jadi kebenaran isinya masih dibawah 50% heuheuu..)

anggep anda dan saya lagi makan 10 sate kambing dan smangkok gule kambing,

secara etika dan moral masing2 dan secara tidak tertulis klo mo adil mereka bakal makan fifty2,,

hal ini karena keduanya dianggap akan punya tingkat kepuasan yang sama, soalnya berat badan sama" 99 kg, tinggi badan 184cm, lingkar pinggang 38 cm, sehari makan biasa 4x2piring.. dengan kapasitas usus perut yang sama juga nafsu serta selera makan yang mirip pula..

ga ada org laen disitu, dan gada lagi yang jualan sate kambing ama gule untuk radius 10km..

kita dikatakan blon efisien selama saya atau anda masih bisa nambah sate kambing dan gule kambing..

satu tusuk...dua tusuk...tiga tusuk...

satu sruputt..dua sruputt..tiga sruputt ..

sampe kita puas..

dan blum ada yang jatah sate kambing atau gulenya keambil ama yang laen..

nah berhubung saya lebih laper..

saya makan lebih cepet dari anda..

sekalinya saya mo nambah sate ke enam..

sate yang bisa saya ambil tinggal sate yang anda anggap jatah anda karena sate yang kesisa masih ada 3,,

mau ga mau klo saya mau nambah sate berarti saya harus ambil jatah anda satu...klo kita bukan temenan, bisa2 berantem klo perlu.. maklum nyandu kambing..

nah itu namanya trade off,, ketika kita mo nambah sesuatu untuk kepuasan kita harus ada orang laen yang dirugikan karena diambil barangnya..

nah, sesuatu baru dibilang efisien, kalo kita mo nambah kepuasan, mau tidak mau kita harus trade off.. nah disitu uniknya..

itu satu hal tentang efisien..

lalu muncul pertanyaan, adil ga kalo kita mo nambah harus ada org laen yang harus dirugikan..?

adil juga ga klo kita ga bisa nambah kepuasan kita gara2 org laen? masih sederet pertanyaan lagi yang bisa muncul seputar efisien..

makanya banyak yang bilang (insyaalloh banyak..) :

"bakal selalu ada trade off antara efisiensi dan keadilan.."

saya juga bingung kalo ditanya mana yang bener :

efisien atau keadilan (equity).. soalnya dua2nya bisa bener bisa aja salah..

nah sekarang apakah kata efisien yang anda-anda sering ucap selama ini punya konsep yang sama dengan konsep efisien yang satu ini?

(informasi lebih jelas dan JAUH LEBIH BENAR cari referensi di wikipedia atau yang lain tentang topik : edgeworth box, pareto efficient, pareto optimum, economic efficient, dll sbgnya yang mirip2.. )

(kalo ternyata saya yang salah maapin aja ya.. hehe.. setidaknya anda tambah tahu kalo sebenernya anda lebih tahu dari saya)

sekarang pertanyaan berikutnya? keadilan sendiri apa?

yah saya coba cari tau dulu trus tulis2 di tulisan berikutnya...

ktemu lagi ditulisan berikutnya..