Thursday, August 7, 2008

Kenapa Golput????

Bicara soal Pilkada, pilkada2 sekarang menunjukkan kecenderungan golput yang semakin tinggi. pengamat-pengamat menganalisa berbagai macam hal penyebabnya. konspirasi salah satu pesertalah, permainan politik lah.. kesalahan kpu, dll, dkk. mungkin itu smua benar tapi sesempurna apapun pemilu, tidak akan pernah bisa berhasil kalo kepercayaan dari rakyat ngga ada.

Beberapa hari yang lalu, saya ngobrol dengan satpam di kampus saya. obrolan dimulai dari masalah-masalah kampus sampai masalah langkanya minyak tanah dan gas. meskipun akhirnya obrolan itu lebih banyak didominasi keluhan si satpam tentang kebutuhan hidupnya dan penderitaan yang dialami lingkungan tempat ia tinggal yang ternyata jauh lebih susah dibanding kehidupan dia. tapi ada hal menarik. Sepanjang dia cerita masalah2nya ada satu tanda tanya yang tiba-tiba nongol di kepala saya dan langsung saya tanya (dalam bahasa Sunda agak Kasar, kebetulan kita sama2 org Sunda):

"trus tos kaayaanna kawas kitu, rek milih saha atuh ngke pemilu? milih nu anyar? "
(trus setelah keadaan spt itu, mo milih siapa nanti pemilu? milih yang baru?).

jawabannya cukup mengherankan.
"ah moal milih sasaha, lieur, ngomongna hungkul, sarua keneh mending teu kudu milih, pemilu bupati trakhir ge sayah teu milih"
(ah ga kan milih siapa2, ngomongnya aja, sama aja mending ga usah milih, pemilu bupati trakhir aja saya ga milih (kebetulan dia warga cikampek, kab. karawang))

saya tanya lagi, "mun calonna mere duit kumaha?" (klo calon ngasi duit gimana?)
jawabnya " komo deui, mun mere duit berarti geus naek nu dipikir moal mungkin rakyat, nu dipikir modalna balik kumaha" (apalagi, klo kaya gitu berarti yang dipikir nanti udah naek gmana modalnya balik).

ternyata selidik punya selidik, warga sekitar rumahnya pun banyak yang berpikir sama.

hal diatas ternyata menunjukkan di tengah euforia munculnyabanyak tokoh-tokoh muda, tokoh baru, partai baru, asas baru, ternyata kepercayaan tidak muncul begitu saja di mata masyarakat kecil. mereka sudah terlalu banayk disusahkan oleh keadaan yang membuat mereka sendiri menjadi antipati. mereka tidak peduli lagi pemimpinnya yang penting kebutuhan hidupnya tidak terganggu.

ini ngingetin saya waktu liburan kemarin ke Pulau Panaitan, waktu itu saya ketemu nelayan di deket dermaga. terjadilah tanya jawab. gini kronologisnya:

"siapa nama gubernur?",
"eee, gatau ... ooh bu... atut.." ,
"presiden?"
"eee.. sby"
"singkatan dari?"
"gatau",
"partai apa aja?",
" golkar.. pdi"
"trus?"
"gatau"
"bupati?"
"gatau"
"pemilu presiden kmaren ikut?"
"ga.."
"pemilu gubernur?"
"ngga",
"pemilihan bupati?",
"ga tau.."
"mo ada pemilu bentar lagi tau?"
"ngga.."
"mo ikut ga?"
"ngga"
"knapa?"
"ngapain, mending nyari lauk"

nah, bgitu fenomenanya. jangan salahkan mereka karena mereka tidak mau memilih. tapi kenyataannya pentingnya partisipasi politik baru disadari oleh masyarakat kelas menengah.. bagi rakyat kecil, biasanya mereka sudah antipati terlebih dahulu, entah karena merasa tidak ada perubahan atau merasa hidup mereka memang akan terus seperti itu nasibnya, tidak berubah.

ini bukan karena modal sosial mereka yang rendah, tetapi karena pengalaman mereka belum bisa membuktikan keefektifan dunia politik dalam merubah nasib hidup mereka.

bagi mereka yang terpenting sebenarnya, setiap hari :
perut bisa kenyang, badan bisa sehat, anak bisa sekolah, hidup bisa tenang dan klo bisa kantong bisa tebal... titik.

nah tugas pemimpin kita dan para politisi sebenarnya cuma itu..
selama itu terpenuhi, kepercayaan rakyat akan meningkat..
tapi sampai sekarang hal itu tidak bisa juga terpenuhi...
bagaimana rakyat kecil bisa percaya...
klo ngga ada kepercayaan rakyat percuma pemilu menghabiskan triliunan rupiah tanpa ada juntrungannnya.........

3 comments:

infogue said...

artikel anda :

http://politik.infogue.com/
http://politik.infogue.com/kenapa_golput_

promosikan artikel anda di www.infogue.com dan jadikan artikel anda yang terbaik dan terpopuler menurut pembaca.salam blogger!!!

@Satria said...

Kesimpulannya pemilih golput itu tidak sama dengan kaum terdidik yang sadar dalam memilih untuk tidak memilih ya, tapi karena mereka ngga tau pemilihan itu buat apa.. Pemilihan ngga ada artinya. Uang yang ada artinya. Buat si satpam yang, menurut saya, cukup sadar politik sih bisa aja ngga tergoda sama uang yang ditawarkan untuk membeli suaranya (meskipun kenyataannya kalo uang udah didepan mata dan anak merengek minta mainan bisa jadi diembat juga). Tapi lain halnya buat si nelayan yang lugu, apalagi mayoritas nelayan kita terjerat utang sama tengkulak. Uang yang ada artinya..

Mungkin harus dibahas juga pertanyaan:"Kenapa milih???"

Harianto Anake Kamituwo said...

seperti 5 tahun yang lalu aku golput waktu pemilihan untuk anggota legislatif, karena mereka para caleg kumerasa ngga ada yang bisa mewakili apa yang dibutuhkan masyarakat apalagi lihat sehak terjangnya para wakil rakyat yang mentingi dirinya sendiri dan partainya. Nah untuk presiden sich aku HARUS ikutan, khan aku warga Indonesia dan aku bukan orang liar so harus punya pemimpin. yach ngga boss